MAKALAH
UJIAN TENGAH SEMESTER
MATA KULIAH : KOMUNIKASI ORGANISASI

Disusun
oleh :
Bima Ade
Pangestu
201910415406
– 3b1
FAKULTAS ILMU KOMUNIKASI
UNIVERSITAS BHAYANGKARA JAKARTA RAYA
2024
KATA PENGANTAR
Puji syukur
saya haturkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayahnya sehingga
saya bisa menyelesaikan Makalah mengenai “Komunikasi Organisasi” sebagai tugas
akhir dari mata kuliah Komunikasi Organisasi (Ujian Akhir Semester).
Tak lupa
juga saya ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang bersangkutan pada
kesempatan kali ini seperti memberikan kontribusi dan mendukung dalam
penyusunan makalah ini. Khususnya teruntuk ibu Hani Astuti. M.I.Kom sebagai
dosen pengajar akademis mata kuliah Komunikasi Organisasi. Tak lupa juga kepada
rekan-rekan kerja saya yang telah membantu dan berkontribusi untuk meringankan
kerjaan saya ketika sedang dalam penyusunan.
Sebagai
penyusun makalah ini, saya menyadari penuh jika terdapat beberapa kesalah yang
terjadi baikk disengaja maupun tidak, baik dalam segi penyusunan maupun tata
bahasa. Oleh karena itu, atas kekurangan dan kesalahannya, saya meminta maaf
sebesar-besarnya. Dengan segala kerendahan hati juga saya akan menerima saran
dan kritik agar saya dapat memperbaiki sehingga menjadi lebih baik kedepannya.
Saya
berharap penuh agar Makalah yang saya susun ini dapat memberikan manfaat,
memberikan dan mengantarkan kebaikan serta keberkahan dan dapat menjadi
inspirasi untuk para pembacanya.
Bekasi, 1
Januari 2024
Bima Ade
Pangestu
DAFTAR ISI
BAB 1……………………………………………………………………………………….……4
1.1
Persepsi Mengenai Komunikasi Organisasi…………………………………………..……….4
1.2
Definisi dan Konsep Kunci dari Komunikasi Organisasi………………………………….....4
1.3
Fungsi Komunikasi Organisasi…………………………………………………………………..5
1.4
Pendekatan Komunikasi Organisasi……………………………………………………..……..6
BAB 2…………………………………………………………………………………………….7
2.1
Komunikasi Verbal dan Non Verbal…………………………………………………………..….7
2.2
Komunikasi Organisasi Verbal…………………………………………………………….……..8
2.3
Klasifikasi Pesan Komunikasi Organisasi……………………………………………..……….9
2.4
Fungsi Pesan Dalam Organisasi……………………………………………………..…………..9
2.5
Jaringan Komunikasi………………………………………………………………….…………...9
2.6
Komunikasi
Organisasi Nonverbal……………………………………………………………..10
BAB 3…………………………………………………………………………………………...12
3.1
Pengertian Kekuasaan……………………………………………………………………….…..12
3.2
Konsep Kekuasaan dan Organisasi…………………………………………………………...12
3.3
Dinamika Komunikasi Organisasi……………………………………………………………...13
3.4
Komunikasi dan Proses Pemberian Kekuasaan………………………………………….…13
3.5
Komunikasi dan Pelaksanaan Kekuasaan……………………………………………………14
3.6
Pengertian Pemberdayaan (Empowerment)……………………………………………….…16
BAB IV………………………………………………………………………………….……….18
4.1
Konflik…………………………………………………………………………………………...…..18
4.2
Peran dan Fungsi Konflik dalam Organisasi…………………………………………………18
4.3
Konflik-Konflik dalam Komunikasi Organisasi………………………………………………19
4.4
Faktor-Faktor Pendorong Konflik Komunikasi Organisasi………………………………...20
4.5
Dampak-Dampak Konflik Komunikasi Organisasi……………………………….……….…21
DAFTAR PUSTAKA…………………………………………………………………………..23
BAB I
PERSEPSI DAN KONSEP DASAR KOMUNIKASI ORGANISASI
1.1
Persepsi Mengenai Komunikasi Organisasi
Komunikasi pada jaman modern
seperti saat ini telah menjadi hal yang paling mendasar dalam segala aspek
keberlangsungan kehidupan manusia. Dengan komunikasi manusia dapat terhubung
satu dengan lainnya, memudahkan segala aktifitas manusia menjadi lebih mudah.
Oleh sebab itu, komunikasi sangat dibutuhkan dalam kehidupan manusia
sehari-hari. Dalam kehidupan sehari-hari manusia, komunikasi juga sangat
memudahkan kegiatan manusia dalam berorganisasi.
Pentingnya komunikasi dalam
sebuah organisasi begitu besar sehingga jika sebuah organisasi berjalan tanpa
ada komunikasi didalamnya, maka akan terasa sangat sulit sekali. Namun
sebaliknya, jika sebuah organisasi menerapkan komunikasi maka akan sangat mudah
untuk anggotanya dalam beraktifitas bahkan bermanfaat untuk dapat dengan mudah
memajukan organisasi itu sendiri. Menurut Goldhaber (1993:6) “Communication
is essential to an organization. Information is vital to effective
communication. Persons who control information control power.”, yang
artinya ada komunikasi penting untuk sebuah organisasi. Informasi yang
dibagikan didalamnya sangat penting dalam penerapan komunikasi yang efektif.
Orang yang mengontrol
informasi akan juga mengontrol kekuasaan. Para ahli sepakat bahwa dalam sebuah
organisasi terdapat sekumpulan individu yang mana dalam aktivitasnya diatur
atau dikoordinasikan dalam rangka mencapai tujuan mereka masing-masing maupun
tujuan Bersama. Dalam melakukan aktifitasnya, sebuah organisasi membentuk
struktur yang berujuan untuk memudahkan interaksi yang terjadi dalam lingkungan
organisasi. Interaksi ini mengharuskan proses komunikasi terjadi dalam
organisasi, baik secara transaksional maupun simbolik (Miller, 2003,p.1).
1.2
Definisi dan Konsep Kunci dari Komunikasi Organisasi
Komunikasi organisasi
sendiri memiliki konsep kunci “Komunikasi” dan “Organisasi”, Menurut Barnard
(1958:175-181) menjelaskan bahwa komunikasi merupakan kekuatan utama dalam
membentuk sebuah organisasi dan juga komunikasi akan membuat sebuah organisasi
menjadi lebih dinamis suatu system Kerjasama dalam organisasi dan menghubungkan
tujuan organisasi pada partisipasi orang-orang yang terlibat didalamnya.
Komunikasi menjadi hal yang pertama dan utama dalam sebuah organisasi. Dengan
penerapan komunikasi didalam sebuah organisasi juga akan memberikan dampak baik
untuk organisasi itu sendiri, salah satunya adalah dalam menjalankan segala
aktifitas yang diperlukan dalam sebuaj organisasi.
Organisasi dapat diartikan
sebagai suatu system individu yang relative stabil yang bekerja sama untuk
mencapai tujuan Bersama melalui struktur hierarki dan pembaagian kerja yang sudah
diatur dan ditentukan. Penataan hubungan diantara anggota organisasi relative
stabil; kestabilan susunan organisasi menjadikan sebuah organisasi berfungsi
secara efektif dalam mencapai tujuannya. Sebuah susunan organisasi dapat
meramalkan komunikasi diantara anggotanya dan karenanya mempermudah tercapainya
tujuan organisasi tersebut (Rogers, 1976:6).
Hal yang membedakan antara
komunikasi organisasi dengan komunikasi diluar dari organisasi adalah dengan
adanya struktur hierarki yang terdapat didalam sebuah organisasi dan tidak
dimiliki oleh selain sebuah organisasi. Misalnya seorang atasan yang memerintahkan
bawahannya dengan melakukan komunikasi mengenai pekerjaan ataupun tugas
masing-masing yang telah dibagikan dan telah diatur dalam peraturan sebuah
organisasi.
Arti dari komunikasi
organisasi juga dapat dilihaat dalam lampiran peraturan MENPAN-RB No. 28 Tahun
2011 mengenai Pedoman Umum Komunikasi Organisasi di Lingkungan Instansi
Pemerintah. Dalam lampiran tersebut dijelaskan bahwa komunikasi organisasi
adalah suatu proses untuk menciptakan dan menukar pesan suatu organisasi Dimana
terdapat hubungan yang saling bergantung satu dengan yang lain, baik formal
maupun informal dalam sebuah instansi pemerintahan.
1.3
Fungsi Komunikasi Organisasi
Fungsi dari komunikasi
organisasi memiliki 4 komunikasi Dimana keempat fungsi tersebut adalah fungsi
regulative, informatif, integrative dan persuasive. Penelitian yang pernah
dilakukan mengenai komunikasi organisasi sebelumnya menyatakan bahwa fungsi
komunikasi organisasi (regulatif, informatif, integratif, dan persuasif)
menjadi bahan evaluasi, kontrol, motivasi, serta melakukan pembinaan karyawan
secara berkala dalam bersikap dan berperilaku. Selain itu dari hasil penelitian
tersebut juga disampaikan bahwa kesamarataan referensi dan penyamaan persepsi
pada empat fungsi komunikasi organisasi dapat menumbuhkan bentuk partisipasi
yang lebih besar dan lebih bertanggung jawab terhadap diri karyawan untuk
mematuhi peraturan dan melakukan pekerjaan dengan baik (Zuali, 2017).
Berdasarkan hal tersebut,
dapat disimpulkan bahwa komunikasi organisasi banyak membawa manfaat dalam
organisasi apabila dijalankan dengan baik. Selain itu, penelitian lain terkait
dengan komunikasi organisasi internal (Mutiara dkk, 2017) menyatakan bahwa
adanya hubungan vertikal antara atasan dengan bawahan atau sebaliknya dan
hubungan horizontal antara sesama karyawan. Dari hasil penelitian tersebut
disimpulkan bahwa hubungan baik yang terjalin baik pada hubungan vertikal dan
horizontal akan mempengaruhi karyawan untuk saling bekerja sama sehingga
meningkatkan kinerjanya.
1.4
Pendekatan Komunikasi Organisasi
Ada tiga jenis pendekatan
komunikasi organisasi ada, yaitu pendekatan makro, mikro, dan individual.
Penedekatan makro adalah dipandang sebagai struktur global yang berinteraksi
dengan lingkungannya terkait dengan interaksi organisasi dalam melakukan aktivitas
dalam memproses informasi atau pesan dari lingkungan, melakukan identifikasi,
integrasi dan menentukan tujuan organisasi. Pendekatan mikro merupakan
pendekatan yang memfokuskan pada komunikasi dalam unit atau subunit pada suatu
organisasi, sehingga dibutuhkan kemampuan komunikasi antaranggota kelompok,
dll. Pada pendekatan ini dibutuhkan peran pemimpin untuk memberikan informasi
mengenai tujuan organisasi dan menjelaskan keterkaitan antara tujuan kelompok
dengan tujuan organisasi, sehingga anggotanya menjadi termotivasi. Pendekatan
individual merupakan pendekatan yang berpusat pada tingkah laku komunikasi
individual dalam organisasi karena melingkupi pada interaksi pada sesama
individu, kelompok, dan organisasi.
Aspek komunikasi organisasi
menurut Pace dan Faules (2002), yaitu (1) aspek peristiwa komunikasi terkait
dengan seberapa jauh informasi diciptakan, ditampilkan, dan disebarkan ke
seluruh bagian organisasi. (2) aspek iklim komunikasi organisasi kondusif yang
terdiri dari berbagai persepsi, merupakan unsur komunikasi yang saling
berinteraksi antara pimpinan organisasi dengan komunikator dengan metode dan
teknik komunikasi yang tepat sesuai situasi dan waktu komunikasi, dan (3) aspek
kepuasan komunikasi organisasi yang menjelaskan tingkat kepuasan komunikasi
yang dirasakan oleh seluruh individu dalam organisasi secara keseluruhan dalam
berkomunikasi.
BAB II
KOMUNIKASI VERBAL DAN NON VERBAL DALAM ORGANISASI
2.1
Komunikasi Verbal dan Non Verbal
Komunikasi verbal adalah
komunikasi yang menggunakan kata-kata, baik itu secara lisan maupun tulisan.
Komunikasi verbal paling banyak dipakai dalam hubungan antar manusia, untuk
mengungkapkan perasaan, emosi, pemikiran, gagasan, fakta, data, dan informasi
serta menjelaskannya, saling bertukar perasaan dan pemikiran, saling berdebat,
dan bertengkar. Terdapat dua unsut penting dalam komunikasi verbal yaitu kata
dan Bahasa.
·
Kata
merupakan lambang terkecil dari bahasa. Kata merupakan lambang yang mewakili
sesuatu hal, baik itu orang, barang, kejadian, atau keadaan. Makna kata tidak
ada pada pikiran orang. Tidak ada hubungan langsung antara kata dan hal. Yang
berhubungan langsung hanyalah kata dan pikiran orang (Julia, 2009). Komunikasi
verbal merupakan sebuah bentuk komunikasi yang diantarai (mediated form of
communication) (Widyo, 2006) Seringkali kita mencoba membuat kesimpulan
terhadap makna apa yang diterapkan pada suatu pilihan kata.
·
Bahasa
adalah suatu sistem lambang yang memungkinkan orang berbagi makna. Dalam
komunikasi verbal, lambang bahasa yang dipergunakan adalah bahasa lisan,
tertulis pada kertas, ataupun elektronik (Agus, 2003). Bahasa memiliki tiga
fungsi yang erat hubungannya dalam menciptakan komunikasi yang efektif. Fungsi
itu digunakan untuk mempelajari dunia sekitarnya, membina hubungan yang baik
antar sesame dan menciptakan ikatan-ikatan dalam kehidupan manusia.
Manusia berkomunikasi
menggunakan kode verbal dan nonverbal. Kode nonverbal disebut isyarat atau
bahasa diam (silent language). Melalui komunikasi nonverbal kita bisa
mengetahui suasana emosional seseorang, apakah ia sedang bahagia, marah,
bingung, atau sedih. Kesan awal kita mengenal seseorang sering didasarkan pada
perilaku nonverbalnya, yang mendorong kita untuk mengenal lebih jauh.
Komunikasi nonverbal adalah semua isyarat yang bukan kata-kata. Pesanpesan
nonverbal sangat berpengaruh terhadap komunikasi. Pesan atau simbol-simbol
nonverbal sangat sulit untuk ditafsirkan dari pada simbol verbal. Bahasa verbal
sealur dengan bahasa nonverbal, contoh ketika kita mengatakan “ya” pasti kepala
kita mengangguk. Komunikasi nonverbal lebih jujur mengungkapkan hal yang mau
diungkapkan karena spontan (Widyo, 2006) Komunikasi
nonverbal jauh lebih banyak dipakai daripada komuniasi verbal. Komunikasi
nonverbal bersifat tetap dan selalu ada.
Komunikasi nonverbal
meliputi semua aspek komunikasi selain kata-kata sendiri seperti bagaimana kita
mengucapkan kata-kata (volume), fitur, lingkungan yang mempengaruhi interaksi
(suhu, pencahayaan), dan bendabenda yang mempengaruhi citra pribadi dan pola
interaksi (pakaian, perhiasan, mebel) (Faisal, 2010). Sebuah studi yang
dilakukan Albert Mahrabian (1971) yang menyimpulkan bahwa tingkat kepercayaan
dari pembicaraan orang hanya 7% berasal dari bahasa verbal, 38% dari vocal
suara, dan 55% dari ekspresi muka. Ia juga menambahkan bahwa jika terjadi
pertentangan antara apa yang diucapkan seseorang dengan perbuatannya, orang
lain cenderung mempercayai hal-hal yang bersifat nonverbal (Widyo, 2006)
2.2
Komunikasi Organisasi Verbal
Komunikasi verbal yang
diterapkan anggota organisasi dalam menjalankan berbagai aktifitas untuk
organisasinya sangatlah perlu untuk diperhatikan. Karena komunikasi adalah hal
penting yang harus dilakukan bagi setiap anggota organisasi. Menerapkan komunikasi
dalam segala aktifitas dalam organisasi juga harus berlandaskan peraturan yang
telah ditetapkan oleh sebua organisasi itu sendiri. Dengan begitu, setiap
anggota organisasi akan dengan tertib melakukan komunikasi, serta akan tetap
menjaga kelancaran dari segala aktifitas yang dilakukan dalam sebuah
organisasi. Keberhasilan sebuah organisasi dalam mencapai tujuannya adalah buah
besar yang akan dirasakan jika setiap anggota organisasi dapat dengan baik
menerapkan komunikasi sesuai aturan organisasi masing-masing.
Setiap organisasi memiliki
hierarki yang mengatur setiap anggotanya untuk dapat bertindak sesuai dengan
peraturan yang telah ditetapkan sebelumnya. Setiap individu anggota organisasi
hanya bisa melakukan komunikasi verbal sesuai dengan peraturan yang telah
ditetapkan sebelumnya. Peraturan yang mengatur anggota organisasi ini akan
membawa dampak kepada organisasi itu sendiri. Salah satu dampak besar yang
diharapakan dari seluruh organisasi adalah keberhasilannya dalam mencapai
tujuan dari organisasi tersebut. Maka tidak heran jika sebuah Perusahaan besar
memiliki peraturan untu anggotanya dalam melakukan komunikasi verbal.
Misalnya pada sebuah
Perusahaan, seluruh karyawannya diwajibkan untuk berkata dengan baik, dan tidak
kasar. Sebuah bawahan harus menghormati lebih besar jika lawan bicaranya adalah
atasan ataupun orang yang umurnya lebih tua. Pada kasus seperti ini, jika
terdapat anggota organisasi atau Perusahaan melanggar dari peraturan yang telah
ditetapkan maka akan menerima sanksi ataupun hukuman yang juga sudah ditetapkan
oleh organisasi tersebut sebelumnya.
2.3
Klasifikasi Pesan Komunikasi Organisasi
Klasifikasi pesan komunikasi
organisasi adalah sebuah cara untuk mengetahui proses, hubungan, pola,
karakteristik maupun tingkah laku pesan komunikasi yang akan disampaikan dalam
organisasi ataupun Perusahaan. Pengklasifian pesan komunikasi organisasi ini
dalam penerapannya menggunakan komunikasi verbal dan non verbal. Namun dalam
penerapanya, yang sering muncul adalah komunikasi verbal.
2.4
Fungsi Pesan Dalam Organisasi
Komunikasi mempunyai
empat fungsi dalam organisasi, yakni: 1) kendali (kontrol/ pengawasan), 2)
motivasi, 3) pengungkapan emosional, dan 4) informasi. Sebenarnya banyak sekali
hasil penelitian para ahli yang menemukan fungsi komunikasi (pesan) dalam organisasi.
Seperti pendapat Khan dan Katz yang mengatakan ada empat fungsi utama yaitu:
yang berkenaan dengan produksi, pemeliharaan, penerimaan, dan pengelolaan
organisasi. Sementara Redding mengemukakan ada tiga alasan diperlukannya
komunikasi dalam organisasai yakni: Untuk pelaksanaan tugas-tugas dalam
organisasi, untuk pemeliharaan, dan untuk kemanusiaan. Sedangkan menurut Thayer
ada lima yaitu: untuk memberi informasi, membujuk, memerintah, memberi
instruksi, dan mengintegrasikan organisasi. Terakhir Greenbaumn mengemukakan
bahwa fungsinya adalah untuk mengatur, untuk melakukan pembaruan, integrasi,
memberikan informasi dan instruksi. Tidak satupun dari masing-masing fungsi
tersebut dilihat lebih penting dari pada fungsi lainnya.
Setiap organisasi mempunyai
hirarkhi wewenang dan panduan formal yang harus dipatuhi oleh para karyawannya.
Komunikasi memberikan informasi yang diperlukan setiap individu dan kelompok
untuk membuat/ mengambil keputusan. Agar kinerja efektif masing-masing kelompok
perlu mempertahankan berbagai kontrol terhadap anggotanya, merangsang dan
memotivasi para anggota untuk bekerja, menyediakan sarana untuk mengungkapkan
emosi, dan mengambil keputusan. Dapat disimpulkan bahwa setiap interaksi komunikasi dalam organisasi
menjalankan satu atau lebih dari lima fungsi di atas.
2.5
Jaringan Komunikasi
Menurut De Vito (1997),
jaringan komunikasi adalah saluran yang digunakan untuk meneruskan pesan dari
satu orang ke orang lain dalam organisasi. Jaringan organisasi ini berbeda
besar dan strukturnya pada masing-masing organisasi, dan biasanya disesuaikan
dengan kepentingan dan tujuan organisasi tersebut. Secara umum jaringan
komunikasi dapat dibedakan atas dua bagian yaitu: 1) jaringan komunikasi Formal
dan 2) jaringan komunikasi Informal. Dengan kata lain hubungan yang terjadi
dalam organisasi dapat terjadi secara formal dan informal.
1)
Komunikasi
formal
Komunikasi formal adalah
komunikasi yang terjadi diantara para anggota organisasi yang secara tegas
telah direncanakan dan ditentukan dalam struktur organisasi formal. Komunikasi
formal ini mencakup susunan tingkah laku organisasi, pembagian departemen atau
tanggung jawab tertentu, posisi jabatan, dan distribusi pekerjaan. Ada tiga
bentuk arus komunikasi dalam jaringan komunikasi formal seperti yang tertera
dalam struktur yakni: 1. Downward communication (komunikasi ke bawah) 2. Upward
communication (komunikasi ke atas) 3. Horizontal communication (komunikasi
horizontal).
·
Komunikasi
ke Bawah
Komunikasi ke bawah
menunjukkan arus pesan yang mengalir dari atas ke bawah. Komunikasi ke bawah
biasanya diberikan oleh pimpinan kepada bawahan atau kepada para anggota
organisasi dengan tujuan untuk memberikan pengertian mengenai apa yang harus
dikerjakan oleh para anggota sesuai dengan kedudukannya. Pesan-pesan tersebut
dapat dijalankan melalui kegiatan: Pengarahan, petunjuk, perintah, teguran,
penghargaan, dan keterangan umum. Komunikasi
ke bawah juga dimaksudkan untuk merubah sikap, membentuk pendapat, mengurangi ketakutan, dan kecurigaan
yang timbul karena salah informasi, dan mempersiapkan anggota organisasi untuk
menyesuaikan diri dengan perubahan. Komunikasi ke bawah ini dapat diberikan
secara lisan, tertulis, dengan gambar atau simbol-simbol, dalam bentuk surat edaran,
pengumuman atau buku-buku pedoman karyawan/anggota.
·
Komunikasi
ke Atas
Komunikasi ke atas adalah
pesan yang mengalir dari bawah ke atas, yakni pesan yang disampaikan oleh para
anggota organisasi/ bawahan kepada pimpinan. Komunikasi ini dimaksudkan untuk
memberikan masukan, saran atau bahan-bahan yang diperlukan oleh pimpinan agar
pimpinan dapat melaksanakan fungsi dengan sebaik-baiknya. Selain itu komunikasi
ke atas ini juga menjadi saluran bagi para anggota/karyawan untuk menyampaikan
pikiran, perasaan yang berkaitan dengan tugas-tugasnya. Hal ini dapat dilakukan
melalui kegiatan: pemberian laporan, pemberian saran/pendapat, baik secara
lisan, tertulis atau dengan menggunakan simbol dan gambar.
·
Komunikasi
Horizontal
Komunikasi horizontal atau
mendatar terjadi diantara orang-orang yang mempunyai kedudukan sederajat atau
satu level. Pesan yang disampaikan biasanya berhubungan dengan tugas-tugas,
tujuan kemanusiaan, saling memberi informasi, penyelesaian konflik, dan koordinasi.
Koordinasi diperlukan untuk mencegah tendensi-tendensi, selain itu juga dimaksudkan
untuk memelihara keharmonisan dalam organisasi. Kegiatan ini dapat dilakukan
dengan cara; rapat-rapat
komite, interaksi informal, memo dan nota, dan lain-lain.
2)
Komunikasi
Informal
Komunikasi informal adalah
komunikasi yang terjadi diantara para anggota organisasi atas dasar kehendak pribadi, tanpa
memperhatikan posisi/kedudukan mereka dalam organisasi. Informasi dalam
komunikasi informal ini mengalir ke atas, ke bawah, atau secara horizontal, dan
ini terjadi jika komunikasi formal kurang memuaskan anggota akan informasi yang
diperlukan. Komunikasi informal disebut juga dengan grapevine (desas desus)
cenderung berisi laporan rahasia mengenai orang, atau kejadian-kejadian di luar dari arus informasi
yang mengalir secara resmi. Namun walaupun
informasinya bersifat informal, grapevine ini bermanfaat bagi organisasi. Bagi
pimpinan grapevine dapat menjadi masukan tentang perasaan karyawannya,
sedangkan bagi sesama karyawan komunikasi informal ini bisa menjadi saluran
emosi mereka. Agar komunikasi berjalan efektif maka diperlukan jaringan
komunikasi (network) baik yang bersifat formal maupun informal.
BAB III
KEKUASAAN DAN PEMBERDAYAAN DALAM ORGANISASI
3.1
Pengertian Kekuasaan
Kekuasaan mengandung suatu
potensi/kemampuan yang belum tentu efektif jika dilaksanakan, dan suatu hubungan
ketergantungan. Bisa saja seseorang memiliki suatu kekuasaan namun tidak
digunakan oleh orang tersebut. Jadi kekuasaan merupakan suatu kemampuan atau
potensi yang tidak akan terjadi jika tidak digunakan oleh orang yang
memilikinya. Kekuasaan juga merupakan suatu fungsi ketergantungan. Kekuasaan
adalah kemampuan seseorang untuk mempengaruhi perilaku orang lain, sehingga
orang lain tersebut akan berperilaku sesuai dengan yang diharapkan oleh orang
yang memiliki kekuasaan (Robbins dan Judge, 2007).
Seseorang hanya dapat
memiliki kekuasaan atas diri orang lain, jika ia dapat mengendalikan sesuatu
yang diinginkan oleh orang lain tersebut. Contoh: Orang-tua memiliki kekuasaan
yang sangat besar atas anaknya, pada saat anak tersebut kuliahnya masih dibiayai
oleh orang-tuanya. Ketika si anak telah lulus, dan kemudian ia bekerja serta
memiliki pendapatan sendiri, maka kekuasaan orang-tua atas dirinya semakin
berkurang.
3.2
Konsep Kekuasaan dan Organisasi
Gagasan tradisional tentang
kekuasaan difokuskan pada individu dan pelaksanaan kekuasaannya. Kekuasaan
adalah sesuatu yang dipegang dan ditangani manusia. Pandangan mutakhir
menyadari bahwa kekuasaan tidak terletak pada manusia semata-mata tetapi dalam
struktur sosial yang memungkinkan mereka bertindak (Lukes, 1977; Giddens, 1979,
1984). Ini menyatakan bahwa struktur tersebut, atau “aturan mainnya” yang
terbentuk secarasosial, memutuskan apa yang dapat dibicarakan dan dengan cara
bagaimana, struktur itu sendiri dapat memutuskan persoalan apa yang mungkin
dipertimbangkan dalam proses pengambilan keputusan. Siapa saja yang pernah
memasuki suatu organisasi baru dan mengikuti rapat mengetahui bahwa orang-orang
tidak berbicara tanpa suatu maksud. Lebih banyak lagi hal yang berpengaruh
daripada pernyataan-pernyataan yang jelas. Apa masalah yang dapat dibicarakan?
Apa yang dianggap tidak patut atau tidak setia? Apakah suatu pendapat akan
disetujui semua orang? Ada suatu struktur sosial. Jadi konsep kekuasaan harus mempertimbangkan
apa yang dikatakan dan apa yang tidak dikatakan berdasarkan pada struktur
sosial yang memungkinkan pelaksanaan kekuasaan tersebut.
Konsep sentral dalam
organisasi (khususnya organisasi besar) adalah suatu hierarki. Berbagai jenjang
organisasi menggambarkan kekuasaan posisional. Seperti dikemukakan Boulding
(1989), keputusan dibuat oleh para individu, tetapi dalam kebanyakan kasus keputusan
dibuat atas nama entitas yang lebih besar. Ketika orang-orang naik hierarkinya,
apa yang mereka putuskan dan atas nama siapa, menjadi semakin rumit. Ini
menyatakan bahwa struktur organisasi sendiri memungkinkan dan sekaligus
membatasi pelaksanaan kekuasaan. Jabatan memungkinkan orang untuk melaksanakan
kekuasaan tertentu, tetapi pada saat yang sama keputusannya bukan keputusan
individu karena persyaratan posisi tersebut.
3.3
Dinamika Komunikasi Organisasi
Dalam sebuah organisasi atau
Perusahaan terdapat banyak sekali individu yang tergabung dengan perbedaan.
Perbedaan tersebut dapat berupa perbedaan latar belakang, perbedaan gaya hidup,
dan segala perbedaan yang mereka miliki. Atas dasar perbedaan tersebut,
menimbulkan dinamika komunikasi dalam organisasi yang terstruktural. Selain
perbedaan individu yang melekat pada setiap anggota organisasi tadi, ada juga
factor lain yang selalu menimbulkan dinamika dalam proses komunikasi
organisasi. Beberapa hal yang dapat menimbulkan dinamika tersebut adalah
perkembangan teknologi (penemuan) yang berdampak pada organisasi tersebut.
Dinamika yang timbul dalam
komunikasi organisasi tersebut memberikan dampat kepada organisasi itu sendiri.
Dampak tersebut bisa menjadi baik dan bisa juga menjadi buruk untuk organisasi
itu sendiri. Dapat berdampak baik bagi Perusahaan jika yang terjadi adalah
perubahan yang menjadikan upaya didalamnya menjadi lebih baik. Dan akan
memberikan dampak kurang baik jika yang terjadi didalamnya adalah hal yang
kurang baik pula.
3.4
Komunikasi dan Proses Pemberian Kekuasaan
Teoritis dan praktisi
organisasi selalu menaruh perhatian utama pada penentuan kondisi yang dapat
mengakibatkan setiap individu melakukan usaha maksimal. Berbagai praktik
manajemen ditunjukan untuk mengajak peserta organisasi menggunakan bakat-bakat
kreatif mereka untuk meningkatkan kualitas organisasi mereka.
Pendekatan-pendekatan demikian meliputi “manajemen bersama
(participatorymanagement)”, “hubungan-hubungan manusia”, “sumber daya manusia”,
“lingkaran kualitas”, dan “manajemen kualitas total”. Salah satu gagasan yang
mendasar adalah gagasan bahwa manusia memberikan yang terbaik dari diri mereka
bila nilai-nilai mereka dan bila mereka diikutsertakan dalam proses pembuatan
keputusan. Pandangan mutakhir tidak mengabaikan dasar pikiran tentang
nilai-nilai manusia (human worth) dan keinginan untuk mengembangkannya, bahkan
memusatkan perhatian pada masalah kekuasaan.
Konsep pemberian kekuasaan
atau pemberdayaan(empowerment) memiliki beberapa dimensi. menunjukkan bahwa
aspek relasional menekankan pembagian kekuasaan antara manajer dan bawahan. Ada
usaha untuk melonggarkan hierarki dan menekankan pemecahan masalah bersama.
Salah satu contohnya adalah perusahaan Gortex yang berusaha mendistribusikan
kekuasaan secara lebih merata (Pacanowsky, 1988).
Sejauh ini kita telah
menekankan pertautan antara “kinerja” dengan pemberdayaan. Keikutsertaan dalam
pembuatan keputusan dan kemampuan melaksanakan tugas, keduanya menyangkut
kinerja. Ada lagi dimensi lain pemberdayaan yang tidak kurang pentingnya. Kenyataannya,
dimensi ini mungkin merupakan hal terpenting karena lebih tersamar dan
merupakan “kekuasaan yang dianggap niscaya” (taken-for-granted power)yang
muncul pada tingkat kesadaran yang sedemikian rendahnya sehingga jarang
terlihat atau dipertanyakan. Kita sedang membicarakan praktik-praktik
komunikasi itu sendiri.
3.5
Komunikasi dan Pelaksanaan Kekuasaan
Kekuasaan jangan dipikirkan
hanya dari sifat menghambatnya, dari arti negatifnya atau sebagai sesuatu yang
pada dasarnya merusak setiap orang yang memilikinya. Sifat memudahkan yang
dimiliki kekuasaan telah lama diakui (Parson, 1967). Kekuasaan itu positif
dalam arti bahwa ia dapat menyebabkan tujuan tercapai dan masalah diselesaikan.
Yang tidak memisahkan kekuasaan dengan pengetahuan, menyatakan bahwa
pelaksanaan kekuasaan menciptakan pengetahuan baru dan sekumpulan informasi.
Kekuasaan adalah kekuatan kreatif sekaligus kekuatan yang membatasi.
Komunikasi dalam suatu
organisasi harus mencerminkan penggunaan kekuasaan yang bijaksana. Boulding
(1989) berpendapat bahwa mempertahankan kekuasaan mungkin bergantung pada
pengetahuan kapan untuk menggunakan kekuasaan tersebut. Kekuasaan yang
dilaksanakan secara bijaksana mungkin sama sekali tidak digunakan. Misalnya,
bila seorang manajer mendelegasikan otoritas kepada bawahannya untuk melakukan
suatu tugas, komunikasi harus mendukung gagasan beberapa pendapat bebas yang
dimiliki bawahan tersebut. Manajer yang mengekor pada bawahannya atau mengirim
setumpuk memo secara terus menerus, yang memperinci secara persis apa yang
harus dikerjakan, bukan mendelegasikan kekuasaan dan jelas bukan pemberdayaan
kepada bawahan. Bentuk manajemen berlebihan merupakan demoralisasi dan
antitetis terhadap proses pembolehan. Hal ini hampir tidak menumbuhkan konsep
kemampuan diri.
Jenis komunikasi apa yang
memungkinkan dan memberi kesempatan untuk memperoleh usaha-usaha terbaik dari
seluruh anggota organisasi? Bagaimana orang menerjemahkan kekuasaan bersama
dalam arti komunikatif? Senge (1990) menyatakan bahwa kebanyakan orang dalam
organisasi telah dididik untuk menentukan wilayah melalui suatu saran dan
kemudian mempertahankannya baik-baik. Pelaksanaan dalam kekuasaan ini berakibat
pembatasan pendapat alternatif dan pembekuan penyelidikan dari diri kita
sendiri dan orang-orang lainnya. Saran itu sendiri mungkin untuk menumbuhkan
saran yang lebih banyak lagi. Bila organisasi ingin menelaah dan menerima
perubahan, para manajernya harus mempunyai keahlian berfikir dan menyelidiki
seperti memiliki keterampilan memberi saran. Ini berarti bahwa keahlian
menyelidiki harus ditanamkan dalam komunikasi itu sendiri. Pendapat-pendapat
dikemukakan untuk mengungkapkan pemikiran yang mendasar sehingga setiap orang
diimbau untuk menelaah pemikiran tersebut. Penelaahan dan saran digabungkan
menjadi alternatif-alternatif yang diperluas. Mendorong suara-suara yang
berbeda mengarah pada suatu keterbukaan informasi yang mungkin mengubah
pendapat pemberi saran dan pendapat orang-orang lainnya. Ini merupakan sebuah
langkah dalam penegakan “kritik terbuka”. Bila masalah pemberian suara kepada
anggota organisasi harus lebih daripada sekedar suatu teknik, pemberian suara
ini harus diletakkan pada nilai-nilai inti organisasi. Keanekaragaman harus
dipandang sebagai suatu kesempatan alih-alih suatu masalah.
Manajer yang memikirkan
perluasan kekuasaan organisasi dengan menyediakan kondisi yang dapat
memberdayakan kepada semuanya, merasa paling sesuai dengan komunikasi
“terbuka”. Nilai inti komunikasi terbuka terletak pada keyakinan bahwa semua
peserta memiliki sesuatu yang dapat diberikan. Pernyataan yang mengemukakan
bahwa cara terbaik untuk mendorong orang agar melakukan tindakan adalah dengan
memberi kesempatan pada mereka untuk mendorong diri mereka sendiri, merupakan
hal yang pragmatik.
Dalam organisasi yang
berharap dapat memanfaatkan sumber daya manusia dengan sebaik-baiknya, selalu
ada ketegangan antara kepatuhan dan perlawanan. Ada jenjang keteraturan
tertentu, tetapi harus ada pula perlawanan yang merangsang inovasi dan
perubahan. Perlawanan ini terungkap dalam komunikasi yang menjamin kritik
terbuka dan pengujian terdiri. Terlepas dari apakah ada suatu struktur
hierarkis atau tatanan lainnya, kondisi untuk berbagi pengaruh harus hadir bila
konsep pemberdayaan harus memiliki makna penting. Salah satu bagian penting
dari kondisi tersebut mencakup komunikasi yang jelas menunjukkan bahwa para
anggota organisasi dan pekerjaan mereka sungguh- sungguh dihargai, bahwa ada
pembagian tanggung jawab bial terjadi kesalahan sama seperti bila meraih
prestasi, dan bahwa pengembangan semua orang merupakan bagian dari kehidupan
organisasi.
3.6
Pengertian Pemberdayaan (Empowerment)
Empoverment, yang dalam
bahasa Indonesia berarti pemberdayaan adalah sebuah konsep yang lahir sebagai
bagian dari perkembangan alam pikiran masyarakat dan kebudayaan barat, utamanya
Eropa. Konsep empowerment mulai nampak di sekitar dekade 70-an, dan kemudian
berkembang terus sepanjang dekade 8o-an hingga saat ini (Pranarka dan Moeljarto
dalam Prijono dan Pranarka, 1996). Pemberdayaaan atau empowement merupakan
sebuah konsep yang fokusnya adalah hal kektusaan (power). Pemberdayaan apapun
asumsinya adalah menerima adanya kekuasaan sebagai faktor, dan membuat yang
tidak berkuasa menjadi memiliki kekuasaan, yaitu yang powerless dlberi power
melalui empowerment sehingga menjadi powerfull (Pranarka dalam Prijono dan
Pranarka, 1996).
Konsep Pemberdayaan pada
perkembangannya memiliki banyak definisi yang dikemukakan oleh para ahli yang
memiliki komitmen tinggi terhadap usaha memajukan kesejahteraan masyarakat,
seperti yang dikemukakan oleh Ife (1995), yaitu empowerment Means providing
people with the resource, opportunities, knowledge and skills to increase their
capacity to dertemine their own future, and to participate in and affect the
life of their community (pemberdayaan berarti menyiapkan kepada masyarakat
berupa sumberdaya, kesempatan, pengetahuan, dan keahlian untuk meningkatkan
kapasitas diri masyarakat di dalam menentukan masa depan mereka, serta untuk
berpartisipasi dan mempengaruh kehidupan dalam Komunitas masyarakat itu
sendiri.
Pemberdayaan menurut
pengertian diatas menunjukkan upaya dari suatu pihak dalam menggerakkan
partisipasi masyarakat dan memperkuat kemampuan masyarakat lapisan bawah yang
masih berada dalam kondisi tidak mampu melepaskan diri dari perangkap
kemiskinan, keterbelakangan, dan membutuhkan pertolongan agar lebih berdaya
dalam kemandirian, keswadayaan, partisipasi, dan demokratisasi. Dalam
pengertian tersebut, Ife (1995) menyimpulkan bahwa empowering is about
increasing the power of the disadvantaged (pemberdayaan adalah mengenai
peningkatan kekuatan dari kelemahan).
Senada dengan pengertian
diatas, Payne (1997) mengemukakan bahwa proses Pemberdayaan ditujukan : untuk
membantu klien memperoleh daya atas keputusan dan tindakan yang terkait dengan
diri mereka, dengan mengurang efek hambatan pribadi dan sosial untuk melatih
daya yang ada, melalui peningkatan kemampuan dan rasa percaya diri untuk
menggunakan daya dan melalui transfer daya dari lingkungannya). Yang
dimaksudkan klien disini adalah individu, keluarga,kelompok,dan komunitas,
sehingga dengan pemberdayaan sebagai proses,diharapkan mereka mampu mengontrol
kehidupannya dan menentukan masa depan yang mereka inginkan.
Dari beberapa pengertian
pemberdayaan diatas, dapat disimpulkan bahwa pemberdayaan adalah suatu proses
pemberian daya (power) berupa kesempatan atau peluang, pengetahuan, keahlian,
dan materi, sehingga membuat yang tidak berdaya (powerless) menjadi memiliki
kekuasaan (powerfull) atau membantu meningkatkan kemampuan, kapasitas, dan rasa
percaya diri klien (masyarakat) sehingga mereka mempunyai Daya/kekuatan untuk
mengatasi permasalahan yang mereka hadapi dalam rangka mencapai Kehidupan yang
lebih baik, sehingga dapat menentukan masa depan sesuai dengan keinginan
mereka.
BAB IV
KONFLIK DALAM ORGANISASI
4.1
Konflik
Konflik yang terjadi dalam
organisasi dapat diakibatkan oleh ketidak sesuaian peran dan ambiguitas dalam
proses komunikasi. Tidak jarang ditemukan bahwa penyebab terjadinya konflik
adalah komunikasi yang kurang baik (Heridiansyah, 2014). Perlu untuk kita
sadari bersama bahwa konflik dapat terjadi kapan saja, di mana saja dan dalam
situasi/kondisi apa saja, banyak temuan yang menunjukkan bahwa ketika sistem
komunikasi dan informasi tidak berjalan efektif maka akan terjadi sesuatu yang
disebut dengan miskomunikasi atau kesalahpahaman antara dua pihak atau lebih.
Dan hal ini dapat memicu terjadinya konflik.
Secara alamiah, konflik
biasanya terjadi sebagai akibat dari adanya ketidak sesuaian seperti yang
digambarkan di atas. Konflik merupakan pertikaian atau pertarungan yang terjadi
diantara individu atau kelompok organisasi. Konflik besar maupun konflik kecil
tentunya dapat diselesaikan dengan berbagai macam cara. Sebagai contoh
peneyelesaian konflik dapat dilakukan dengan memanfaatkan wewenang, melakukan
konfrontasi, berkompromi, menenangkan situasi dan menghindar dari konflik yang
terjadi (Lumintang, 2015).
Konflik adalah suatu
pertentangan yang terjadi antara apa yang diharapkan oleh seseorang terhadap
dirinya, orang lain, organisasi dengan kenyataan apa yang diharapkannya.
Menurut Gibson (1977:347) hubungan selain dapat menciptakan kerjasama, hubungan
saling tergantung dapat pula melahirkan konflik. Hal ini terjadi jika masing–
masing komponen organisasi memiliki kepentingan atau tujuan sendiri–sendiri dan
tidak bekerja sama satu sama lain.
Menurut Shannon dan Weaver
(dalam Cangara, 2016) gangguan komunikasi terjadi jika terdapat intervensi yang
mengganggu salah satu elemen komunikasi,
sehingga proses komunikasi tidak dapat berlangsung secara efektif. Sedangkan
rintangan komunikasi dimaksudkan ialah adanya hambatan yang membuat proses
komunikasi tidak dapat berlangsung sebagaimana harapan komunikator dan
penerima.
4.2
Peran dan Fungsi Konflik dalam Organisasi
Dalam sebuah organisai,
pekerjaan individual maupun sekelompok pekerja saling terkait dengan pekerjaan
pihak-pihak lain. Ketika suatu konflik muncul di dalam sebuah organisasi,
penyebabnya selalu diidentifikasikan sebagai komunikasi yang kurang baik. Demikian
pula ketika suatu keputusan yang buruk dihasilkan, komunikasi yang tidak
efektif selalu menjadi kambing hitam.
Para manajer bergantung
kepada ketrampilan berkomunikasi mereka dalam memperoleh informasi yang
diperlukan dalam proses perumusan keputusan, demikian pula untuk
mensosialisasikan hasil keputusan tersebut kepada pihak-pihak lain. Riset
membuktikan bahwa manajer menghabiskan waktu sebanyak 80 persen dari total
waktu kerjanya untuk interaksi verbal dengan orang lain. Ketrampilan memproses
informasi yang dituntut dari seorang manajer termasuk kemampuan untuk mengirim
dan menerima informasi ketika bertindak sebagai monitor, juru bicara
(Spekesperson), maupun penyusun strategi.
Sudah menjadi tuntutan alam
dalam posisi dan kewajiban sebagai manajer untuk selalu dihadapkan pada
konflik. Salah satu titik pening dari tugas seorang manajer dalam melaksanakan
komunikasi yang efektif didalam organisasi bisnis yang ditanganinya adalah memastikan
bahwa arti yang dimaksud dalam instruksi yang diberikan akan sama dengan arti
yang diterima oleh penerima instruksi demikian pula sebaliknya (the intended
meaning of the same). Hal ini harus menjadi tujuan seorang manejer dalam semua
komunikasi yag dilakukannya. Dalam hal me-manage bawahannya, manajer selalu
dihadapkan pada penentuan tuntuan pekerjaan dari setiap jabatan yang dipegang
dan ditangani oleh bawahannya (role expectaties) dan konflik dapat menimbulkan
ketegangan yang akan berefleksi buruk kepada sikap kerja dan perilaku
individual. Manajer yang baik akan berusaha untuk meminimasasi konsukensi
negatif ini dengan cara membuka dan mempertahankan komunikasi dua arah yang
efektif kepada setiap anggota bawahannya. Disinilah manajer dituntut untuk
memenuhi sisi lain dari ketrampilan interpersonalnya, yaitu kemampuan untuk
menangani dan menyelesaikan konflik.
Manajer menghabiskan 20
persen dari waktu kerja mereka berhadapan dengan konflik. Dalam hal ini,
manajer bisa saja sebagai pihak pertama yang langsung terlibat dalam konflik
tersebut, dan bisa saja sebagai pihak pertama yang langsung terlibat dalam
konflik tersebut, dan bisa pula sebagai mediator atau pihak ketiga, yang
perannya tidak lain dari menyelesaikan konflik antar pihak lain yang
mempengaruhi organisasi bisnis maupun individual yang terlibat di dalam
organisasi bisnis yang ditanganinya.
4.3
Konflik-Konflik dalam Komunikasi Organisasi
Dalam
kehidupan organisasi, konflik
juga dapat dibedakan
menurut pihak-pihak yang saling
bertentangan. Atas dasar hal ini, kita mengenal lima konflik (T. Hani Handorko,
1984):
1. Konflik dalam
diri individu, yang
terjadi bila seorang
individu menghadapi
ketidakpastian tentang pekerjaan
yang dia harapkan
untuk melaksanakannya, bila berbagai
permintaan pekerjaan saling
bertentangan, atau bila
individu diharapkan untuk
melakukan lebih dari pada kemampuannya.
2. Konflik antar
individu dalam organisasi
yang sama, dimana
hal ini sering
diakibatkan oleh
perbedaan-perbedaan
kepribadian. Konflik ini
juga berasal dari
adanya konflik antar peranan
(seperti antara manajer dan bawahan).
3. Konflik antara
individu dan kelompok,
yang berhubungan dengan
cara individu menanggapi tekanan
untuk keseragaman yang
dipaksakan oleh kelompok
kerja mereka. Sebagai contoh,
seorang indiidu mungkin
dihukum atau diasingkan
oleh kelompok kerjanya karena melanggar norma-norma kelompok.
4. Konflik antar
kelompok dalam organisasi
yang sama, karena
terjadi pertentangan kepentingan
antar kelompok.
5. Konflik
antar organisasi, yang timbul sebagai akibat bentuk persaingan ekonomi dalam
sistem perekonomian suatu
negara. Konflik ini
telah mengarahkan timbulnya pengembangan produk
baru, teknologi, dan
jasa, harga-harga lebih
rendah, dan penggunaan sumber
daya lebih efisien.
4.4
Faktor-Faktor Pendorong Konflik Komunikasi Organisasi
Suatu konflik dapat terjadi karena masing-masing
pihak atau salah satu pihak merasa dirugikan. Kerugian ini bukan hanya bersifat
material, tetapi dapat juga bersifat non material. Untuk dapat
mencegah konflik, maka
pertama-tama kita harus
mempelajari sebab-sebab tersebut
antara lain:
1
Perbedaan pendapat,
Suatu konflik dapat terjadi karena perbedaan pendapat, dimana masing-masing
pihak merasa dirinyalah yang paling benar. Bila perbedaan pendapat ini cukup
tajam, maka dapat menimbulkan rasa yang kurang enak, ketegangan dan sebagainya.
2
Salah paham, Salah paham
jugamerupakan salah satu hal yang dapat menimbulkan konflik. Misalnya
tindakan seseorang mungkin
tujuannya baik, tetapi oleh
pihak lain tindakan
tersebut dianggap merugikan.
3
Salah satu atau kedua
belah pihak merasa dirugikan, Tindakan
salah satu mungkin
dianggap merugikan yang
lain, atau masing-masing merasa dirugikan
oleh pihak yang
lain. Sudah barang
tentu seorang yang
dirugikan merasa kurang enak kurang simpati atau malahan benci.
Perasaan-perasaan ini dapat menjurus ke arah konflik.
4
Perasaan yang terlalu
sensitive, Perasaan yang terlalu
sensitif mungkin adalah
wajar tetapi oleh
pihak lain hal
ini dianggap merugikan. Jadi
kalau dilihat dari
sudut hukum atau
etika yang berlaku, sebenarnya tindakan
ini tidak termasuk
perbuatan yang salah,
meskipun demikian
karenapihak lain terlalu
sensitif perasaannya, hal
ini tetap dianggap
merugikan, sehingga dapat menimbulkan konflik.
4.5
Dampak-Dampak Konflik Komunikasi Organisasi\
Konflik
atau pertentangan dapat
terjadi anatara individu
dengan individu kelompok dengan kelompok.
Konflik dapat terjadi
di antara pihak
yang mempunyai tujuan
sama karena salah satu
pihak atau kedua belah
pihak merasa dirugikan. Individu
dan kelompok dalam organisasi
mengembangkan keahlian dan
pandangan yang berbeda
tentang tugas dengan yang lain,
yang dinataranya dapat menimbulkan konflik.
Konflik dapat berakibat positif atau menguntungkan dan negatif atau
merugikan.
a. Berakibat Positif atau Menguntungkan
1) Menimbulkan kemampuan
untuk intoveksi diri. Konflik dapat dirasakan oleh pihak lain, dan mereka dapat
mengambil keuntungan sehingga mereka mampu melakukan intopeksi diri, karena
mengetahui sebab-sebab terjadinya konflik.
2) Meningkatkan Kinerja.
Konflik bisa menjadi cambuk ehingga dapat meningkatkan kinerja. Konflik
dapat mendorong individu
untuk menunjukan kepada
orang lain bahwa dia mampu meningkatkan kinerja dan mampu mencapai
sukses.
3) Pendekatan yang lebih
baik. Konflik bisa
menimbulkan kejutan karena kehadirannya sering
tidak terduga, sehingga
setiap orang lebih
berhati-hati dalam interaksi, dan
menyebakan hubungan yang lebih baik.
4) Mengembangkan alternatif
yang lebih baik.
Konflik bisa merugikan
hal-hal yang merugikan pihak tertentu
jika terjadi antara
atasan dan bawahan,
misalnya tidak memberikan jabatan atau
memberi hukuman yang
berlebihan. Kondisi ini
sering menjadi tantangan untuk mengembangkan solusi yang lebih baik.
b. Berakibat Negatif Atau Merugikan
1) Subjektif dan
emosional. Pada umumnya
pandangan pihak yang
sedang konflik satu sama lain
sudah tidak objektif dan bersifat emosinonal
2) Apriori. Jika
konflik sudah meningkat
bukan hanya subjektivitas
dan emosional yang muncul tetapi
dapat menyebabkan apriori, sehingga pendapat orang lain selalu dianggap salah
dan dirinya yang selalu benar.
3) Saling menjatuhkan.
Konflik yang berkelanjuta
bisa mengakibatkan saling
benci, yang memuncak dan
mendorong individu untuk
melakukan tindakan yang
terpuji untuk menjatuhkan lawan, misalnya memfitnah, menghambat dan
mangadu.
4) Stres. Konflik
yang berkepanjangan, tidak
ahanya dapat menunrunkan
kinerja, tetapi bisa
menimbulkan stres. Stres
terjadi karena konflik
yang berkepangangan
menimbulkan ketidak seimbangan fisik
dan psikis, sebagai
bentuk reaksi terhadap tekanan yang intesitasnya sudah
terlalu tinggi.
5) Frustasi. Konflik dapat
memacu berbagai pihak yang terlibat untuk lebih beprestasi, tetapi jika konflik
tersebut sudah tingkat yang cukup parah dan di antara pihak yang terlibat ada
yang lemah mentalnya bisa menimbulkan frustasi.
DAFTAR PUSTAKA
Agus M. H. (2003). Komunikasi
Intrapersonal & Komunikasi Interpersonal, Yogyakarta: Kanisius.
Barnard, Chester I. (1958). The
Function of The Executive, Haarvard Cam Bridge Mass.
Boulding K. (1989). Three Faces of
Power. Newbury Park, Calif. : Sage.
Cangara, H. (2016). Pengantar Ilmu
Komunikasi, Jakarta : PT. RajaGrafindo Persada. Edisi kedua.
Faisal W. (2010). Komunikasi Verbal dan
Nonverbal.
Gibson, James L., et al. (1977).
Organisasi: Perilaku, Struktur, Proses. Alih bahasa oleh Adriani. Jakarta:
Binarupa Aksara
Giddens A. (1979). Central Problems
in Social Theory. London: Macmillan.
Giddens A. (1984). The Constitution
of Society. Cambridge: Polity Press.
Goldhaber, G.M. (1993). Organizational
Communication. Sixth Edition. USA : Mc. Graw Hill.
Hani Handoko, T. (1984). Manajemen, BPFE & LMP2M AMPYKPN,
Yogyakarta.
Heridiansyah, J. (2014). Manajemen
Konflik dalam Sebuah Organisasi. Jurnal STIE Semarang (Edisi Elektronik), 6(1),
28–41.
lfe, Jim. (1996). Pembangunan Masyarakat
: Analisis dan Praktik, diterjemahkan oleh Taufik Rohman. Jakarta: CFMS.
Julia, T. W. (2009). Communication in
Our Lives, USA: University of North Carolina at Capital Hill.
Joseph A.
DeVito. (1997). Komunikasi Antar Manusia. Jakarta: Professional Books.
Lukes S. (1977). Essays in Social
Theory. London: Macmillan.
Lumintang, J. (2015). Dinamika Konflik
dalam Organisasi. ACTA DIURNA KOMUNIKASI, 4(2).
Miller, K. (2003). Organizational
Communication : Approaches & Processes. Third Edition. USA :
Wadsworth/Thomson Learning.
Mutiara, Yunisa, Abdullah, Muh. Zein,
Saidin. (2017). Komunikasi Organisasi Internal pada Karyawan Kantor Perwakilan
Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Tenggara. Jurnal Ilmu Komunikasi Universitas
Halu Oleo. Diakses dari: http://ojs.uho.ac.id/index.php/KOMUNIKASI
/article/view/2711
Pacanowsky, M. (1988). “Communication
in the Empowering Organization”, dalam Communication Yearbook 2, J.
Anderson, ed. Newbury Park, Calif.: Sage.
Pace, R. W., & Faules, D.F. (2002). Organizational
Communication. New Jersey: Pretice Hall.
Payne, Malcolm. 1997. Teori Pekerja
Sosial Modern, diterjemahkan oleh Gunawan. Jakarta: Sinar Grafika.
Persons, T. (1967). Sosiological
Theory and Modern Society. New York: Free Press.
Pranarka, A.M.W. (1996).
"Globalisasi Pemberdayaan dan Demokatisasi", dalam Onny S. Prijono
dan A.M.V. Pranarka. 1996. Pemberdayaan: Konsep, Kebijakan, dan ImpIementasi.
Jakarta CIDES.
Robbins, & Judge. (2007). Organizational
Behavior 12th Edition. Pearson International Edition, New
Jersey.
Rogers Everett M., & Rekha Agarwala
Rogers. (1976). Communication in Organization, New York, The Free Press.
Senge, P. M. (1990). The Fifth
Discipline. New York: Doubleday.
Widyo N. (2006). Modul Teori Komunikasi
Verbal dan Nonverbal.
Zuali, Syawaluddin., Jumaidin, La Ode.,
Sirajuddin. (2017). Fungsi Komunikasi Organisasi pada Peningkaatan Disiplin
Kerja Pegawai Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Kota Kendari. Jurnal Ilmu
Komunikasi Universitas Halu Oleo. Diakses dari: http://ojs.uho.ac.id/index.php/KOMUNIKA
SI/article/view/2706
LAMPIRAN

0 Comments